Tuesday, September 9, 2008

Sensei, Aishiteru!!! part 02

Tapi apakah mungkin seorang guru seperti dia menganggap perasaanku dengan serius? Aku selalu bercanda dengannya, dan tak jarang dia curhat tentang cewek-cewek yang dia sukai. Dia menyukai seorang wanita dan bukan gadis kecil seperti aku pastinya. Karena kesal, tak jarang aku mencuri-curi kesempatan mengutak-atik hape-nya dan mengirim sms yang menyebalkan pada gebetan-gebetannya. Pak Pandu tak pernah marah beneran padaku, dia orang yang sangat tidak bisa marah. Bahkan dia pernah bercerita, saat sahabatnya merebut pacarnya yang sudah lama menjalin hubungan dengannya pun, dia tak bisa berkata apa-apa. Kesal memang, tapi cinta tak bisa dipaksakan, begitu katanya dengan berlagak bijak. Padahal aku melihat, di bola matanya tersirat kesedihan yang amat mendalam saat dia bercerita tentang mantannya itu.
"Riska!" panggilan itu membuyarkan lamunanku. Dia memanggilku.
"Eh.. Pak Pandu. Kenapa manggil-manggil? Kangen ya sama saya?" Ngarep Mode:On.
"Ngaco! Kamu itu ya, iseng banget! Sms gebetan saya kalo saya udah gak mau ketemu lagi sama dia. 'Kan cewek itu jadi sebel. Dikiranya saya cuma ngegombal aja sama dia. Haaahhh...."
"Lho, bukannya bapak emang demennya ngegombal?"
"Hush, ngaco kamu. Saya nggak pernah ngegombal, tau. Kalo saya emang tertarik sama orang
saya akan jujur 100% mengungkapkan perasaan saya." ujar Pak Pandu dengan wajah serius. Iyaa, Pak. Aku tahu banget bapak orangnya gimana, dan sangat berharap kalau bapak tertarik sama aku :'(
"Emang cewek kali ini oke banget ya?" tanyaku memancing.
"Super duper oke. Cantik, modis, kaya. Komplit, 'kan?"
"Hah! Bapak matre banget sih, pake cari-cari cewek kaya. Harga diri bapak sebagai lelaki kemana?"
"Weits, jangan salah. Bukan matre, tapi Realistis. Ya, Kaya itu 'kan salah satu point lebih buat seseorang. Nggak ada salahnya donk."
"Ah Bapak bisa aja ngelesnya. Tapi, kuaciaaannn deh, cewek itu udah nggak mau ketemu sama bapak lagi, karena sms saya, hehehehe." hatiku lega telah mengirim sms iseng itu pada gebetan Pak Pandu.
"Ha..ha..ha.. kata siapa dia percaya sms kamu. Dia emang merespon sms kamu, tapi terus dia telpon saya, memastikan isi dari sms itu. Terus saya udah jelasin kalau itu cuma ulah murid saya yang iseng, dan dia langsung lega gitu. Kayaknya boleh nih saya berharap, kalo dia juga suka saya." Pak Pandu tersenyum bangga. Sedangkan aku tersenyum kecut.
"Seneng banget sih dideketin cewek, kayak orang gak laku tau." aku ketus.
"Anak-anak kayak kamu mana bisa mengerti kisah cinta orang dewasa seperti saya."
Mukaku langsung merah padam. Anak-anak? Ya, bagi Pak Pandu aku hanyalah salah seorang anak muridnya. Kepedihan itu langsung menyayat hatiku.
"Saya bukan anak-anak, tau. Saya ini seorang gadis remaja yang sedang tumbuh untuk menjadi dewasa." ujarku setengah meninggi.
"Lho, kok kamu jadi emosi gitu sih? Sudahlah terima kenyataan bahwa kamu tuh emang masih anak bau kencur." ejek Pak Pandu.
"Bapak jahat! Week" aku pergi sembari menutupi wajahku. Setitik air mata jatuh. Biar bagaimanapun aku berusaha, Pak Pandu takkan pernah melihatku sebagai seorang wanita.
Tapi aku juga belum dapat mengungkapkan perasaan ini pada Pak Pandu. Aku tak punya keberanian. Aku takut dia menolakku. Sepertinya memang tak ada lampu hijau dalam percintaanku. Belum lagi dia seorang guru, merupakan larangan di sekolah ini bagi para guru untuk berhubungan cinta dengan muridnya.
Hari-hari berlalu tanpa bisa kukendalikan lagi perasaanku. Aku semakin menyukai Pak Pandu.
Namun semakin kuat rasa itu, semakin lemah keberanianku. Aku ingin menjadikannya milikku. Aku ingin tangan yang besar itu hanya mengelus kepalaku. Aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang bersandar di pundaknya yang bidang itu. Setiap hari aku selalu membayangkan dirinya membalas perasaan ini. Aku tak menyangka, bahwa hari yang sangat kutakutkan akan tiba.
Saat awal tahun ajaran baru-ku di kelas 3, Pak Pandu membawa seorang wanita muda untuk berkeliling di sekolah. Wanita muda itu sangat cantik, dan kelihatannya dari keluarga yang berada. Aku langsung menghampiri mereka.
"Cieee, Pak Pandu. Bawa siapa nih? Jangan-jangan...." Pak Pandu tersenyum malu-malu.
"Kamu emang selalu mau tauuuu aja ya. Ehemm... Kenalin ini calon istriku, Sara." Wanita muda itu lalu tersenyum manis ke arahku dan menyodorkan tangannya untuk menjabat tanganku. Sesaat aku ragu harus menyambut tangannya atau tidak, karena saat itu aku terlalu shock mendengar kata-kata Pak Pandu. Calon... Istri...
"Riska" sahutku pelan memperkenalkan diri pada Pak Pandu.
"Sara" dan aku terpana mencermati wajahnya yang begitu mulus, putih dan sangat pantas menggunakan make up. Memang benar-benar seorang wanita.
"Kapan ni, nikahnyaaa? Hehehee..."aku berpura-pura ceria untuk menutupi perasaan sedihku.
"Insya Allah, bulan depan. Nanti seluruh murid di sekolah ini akan diundang kok. Kamu dateng aja." wanita itu menjawab dengan tutur kata yang halus.
"Selamet ya, Pak. Mbak Sara, hati-hati lho Pak Pandu ini mata keranjang. Hihihihi..." ujarku sambil berlalu dari tempat itu.
"Hei, kurang ajar kamu, Riska. Jangan didengerin Sara, dia cuman bohong. Dia emang muridku yang paling iseng." Mbak Sara hanya tertawa kecil. Bagiku tawa kecil itu bagaikan menertawakan kekalahanku. Iya, aku telah kalah dalam merebut cinta Pak Pandu. Kalah telak.
Malam itu tak ada henti-hentinya aku meratapi nasibku. Menangis karena patah hati. Habis sudah harapanku untuk memiliki hati Pak Pandu. Tadi siang Pak Pandu terlihat begitu mesra memperlakukan Mbak Sara, tunangannya itu.

Monday, September 8, 2008

Forbidden Love Series 01-Sensei, Aishiteru!!!

"Riskaaa, kamu ngutak-atik hape saya lagi ya?", ujar Pak Pandu kepadaku siang itu.
"Hehehe, kok tau sih, Pak?", timpalku cengengesan.
"Ya iyalah, lihat tuh ada di sent items-nya ada sms yang kamu ketik dan kamu kirim ke..."
Ups, aku kabur sebelum kena jitakan maut Pak Pandu.
"Riskaaaaaaa, kamu sms apa sama gebetan baru saya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Pak Pandu histeris. Hahaha, makanya Pak, jangan kegenitan sms2 cewek lain. Padahal ada cewek manis di depan matamu yang menunggu untuk di sms.
Pak Pandu beranjak dari kursinya untuk mengejarku, tapi aku sudah mengambil langkah seribu.
Pak Pandu menyerah dan cuma bisa mengamati jejak langkahku yang makin kencang.
Aku tertawa. Untunglah Pak Pandu orang yang agak ceroboh, dan tak pernah 'mengamankan' hape-nya dengan password. Jadi selama dia lengah, aku bisa dengan mudahnya mengakses hape dan mengirim sms ke siapa saja.
Pak Pandu adalah guru baru yang masih muda banget. Dia menjadi pembimbing klub IT di sekolahku. Klub IT adalah klub yang banyak peminatnya, maklum anak-anak jaman sekarang nggak mau ketinggalan jaman dalam hal teknologi. Klub IT selalu membahas gadget-gadget terbaru maupun software teranyar dan semua hal yang berhubungan dengan teknologi. Klub ini baru dibentuk setahun yang lalu. Karena belum punya pembimbing, maka Pak Pandu yang guru baru dan masih muda itu (FYI, umurnya baru 24 tahun, Single :)) diberi mandat oleh kepala sekolah untuk membina klub IT.
Dan aku adalah sekretaris klub IT. Aku orang yang aktif di dalam klub. Semakin aktif lagi sejak Pak Pandu diputuskan menjadi pembina klub. Kukasih tau aja nih, aku sudah jatuh hati semenjak Pak Pandu diperkenalkan oleh kepala sekolah pas upacara tahun ajaran baru. Pas ngeliat dia pertama kali, entah kenapa jantungku langsung berdegup kencang. Padahal Pak Pandu bukan orang yang memiliki ketampanan yang luar biasa. Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku tertarik. Namun sayangnya bukan hanya aku yang tertarik padanya, hampir semua murid perempuan bersimpati padanya.
Tapi keberuntunganku terus mengikuti, sejak kelas 1, aku memang mengikuti klub IT. Dengan posisiku sebagai pengurus klub, aku bisa dengan mudahnya mengakrabkan diri dengan Pak Pandu. Semakin aku mengenalnya, aku semakin menyukainya. Kegemaran kami sama, gadget mania. Tapi di luar itu, pembicaraan apa pun, aku selalu nyambung dengannya.
Aku senang ngobrol dengannya, aku menikmati setiap detik memandang wajahnya, aku mengagumi gayanya mengajar, aku bahagia bisa bertemu dengannya setiap hari sekolah. Pak Pandu adalah cahaya sekolah bagiku. Bagaikan penyemangat hidupku yang tadinya biasa saja.
Pak Pandu termasuk guru yang mudah berkomunikasi dengan siapa pun muridnya. Maka aku yakin yang menyukainya bukan hanya aku saja.
Pak Pandu selalu baik, tak pernah membeda-bedakan muridnya. Dalam hatiku, timbul rasa ingin memilikinya... bersambung